9 Kecerdasan Anak yang Perlu Diketahui Orang Tua
Tiga Tanda Kematian
Apakah itu? tanya malaikat maut. Jika ajalku telah dekat, beri tahu aku. Malaikat maut berkata, Baik aku akan memenuhi permintaanmu, aku tidak hanya akan mengirim satu utusanku, namun aku akan mengirim dua atau tiga utusanku. Setelah mereka bersepakat, mereka kemudian berpisah.
Setelah beberapa lama, malaikat maut kembali menemui Nabi Ya’kub. Kemudian, Nabi Ya’kub bertanya, Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?
Mencontohkan Lebih Baik daripada Memerintah Anak
Dari hasil penelitian terbaru, anak-anak cenderung menolak makan menu sehat bila memang orang tuanya tidak mencontohkan demikian. Seringkali, orang tua hanya menerapkan 'perintah' agar anak sudi makan makanan bergizi dan sehat, lantas menerapkan pola 'reward and punishment' kepada anak.
Anak adalah Investasi yang Paling Berharga
Tanda-tanda Matinya Hati
Hati juga sumber kebahagiaan jika sang pemiliknya mampu membersihkan berbagai kotorannya yang berserakan, namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika sang
empunya gemar mengotorinya.
Hati yang kotor hanya akan menyebabkan kapasitas ruangnya menjadi pengap, sumpek, gelap, dan bahkan mati. Jika sudah mati seluruh komponen juga akan turut mati. Dalam makna yang sama, Abu Hurairah RA berkata, “Hati ibarat panglima, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika panglima itu baik maka akan baik pulalah tentaranya. Jika raja itu buruk maka akan buruk pula tentaranya.”
Pada akhirnya kita bisa mengenali dalam keadaan apa hati seseorang itu mati. Di antaranya adalah pertama, taarikush shalah, meninggalkan shalat dengan tanpa uzur atau tidak dengan alasan yang dibenarkan oleh syar’i. (QS Maryam [19]: 59).
Imbas dari seringnya meninggalkan shalat adalah kebiasaan memperturutkan hawa nafsu. Dan, kalau sudah demikian, dia akan menabung banyak kemaksiatan dan dosa. Ibnu Mas’ud menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut dengan sebuah aliran sungai di Jahanam (neraka) yang makanannya sangat menjijikkan. Bahkan, tempatnya sangat dalam dan diperuntukkan bagi mereka yang membiarkan dirinya larut dalam kemaksiatan.
Kedua, adz-dzanbu bil farhi, melakukan kemaksiatan dan dosa dengan bangga. Alih-alih merasa berdosa dan menyesal, justru si pemilik hati yang mati, ia teramat menikmati kemaksiatan dan dosanya. (QS al-A’raf [7]: 3).
Ketiga, karhul Qur'an, benci pada Alquran. Seorang Muslim, jelas memiliki pedoman yang menyelamatkan, yaitu Alquran. Tapi, justru ia enggan berpedoman dan mencari selamat dengan kitab yang menjadi mukjizat penuntun sepanjang zaman ini. Bahkan, ia membencinya dan tidak senang terhadap orang atau sekelompok orang yang berkhidmat dan bercita-cita luhur dengan Alquran.
Keempat, hubbul ma'asyi, gemar bermaksiat dan mencintai kemaksiatan. Nafsu yang diperturutkan akan mengantarkan mata hatinya tertutup, sehingga susah mengakses cahaya Ilahi. Sehingga, ia lebih senang maksiat daripada ibadah.
Kelima, asikhru, sibuk hanya mempergunjing dan buruk sangka serta merasa dirinya selalu lebih suci. Keenam, ghodbul ulamai, sangat benci dengan nasihat baik dan fatwa-fatwa ulama. Berikutnya, qolbul hajari, tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, alam kubur, dan akhirat.
Selanjutnya, himmatuhul bathni, gila dunia bahkan tidak peduli halal haram yang penting kaya. Anaaniyyun, masa bodoh terhadap keadaan dan urusan orang lain. Keluarganya menderita, dia tetap saja cuek. Al-intiqoom, pendendam hebat, al-bukhlu, sangat pelit, ghodhbaanun, cepat marah, angkuh, dan pendengki.Na’udzubillah. Semoga kita semua dijaga dari hati yang mati
===========================================
Oleh : Ust. Arifin Ilham
Sumber : Republika.co.id
Ciri Kehormatan Seorang Muslim
Mukmin vs Munafik
Berkata Jujur
Ketika perang selesai dan berita kepulangan Nabi SAW tersiar, Ka’ab dihantui kerisauan. Terbetik dalam dirinya untuk berbohong, agar terhindar dari kemarahan Rasulullah SAW. Namun, ia tak berani berbohong. Ia membulatkan tekad untuk berkata jujur.
Setelah Nabi SAW tiba, Ka’ab segera menghadap Nabi SAW. Beliau tersenyum hambar sambil memalingkan wajahnya yang mulia. Ka’ab berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah berpaling dari saya. Demi Allah, saya bukanlah orang munafik dan saya meyakini keimanan saya.” Beliau bersabda,“Kemarilah, mengapa engkau tidak ikut berperang, bukankah engkau sudah membeli unta sebagai kendaraan?”
Ka’ab pun menjawab, “Ya Rasulullah, kalau kepada orang lain sudah tentu saya dapat memberikan berbagai alasan agar ia tidak marah, karena Allah telah mengaruniakan kepada saya kepandaian berbicara. Tetapi kepada engkau, walaupun saya dapat memberikan keterangan dusta yang dapat memuaskan hatimu, sudah tentu Allah akan murka kepadaku.”
Rasulullah SAW bersabda, “Engkau telah berkata jujur, berdirilah, Allah akan memutuskan segala urusanmu.” Setelah itu, Ka’ab meninggalkan Nabi SAW dan pulang ke rumahnya. Dalam masa penantian menunggu keputusan Allah SWT, Ka’ab dilarang berbicara pada siapa pun dan ia juga diperintahkan untuk menjauhi istrinya.
Orang-orang pun menjauhinya dan mengucilkannya seakan-akan dunia menolaknya. Bukan hanya itu, saudaranya pun tidak mau berbicara kepadanya dan bahkan ada orang yang mengajaknya keluar dari agama Islam. Semua ini menjadikan Ka’ab sangat bersedih.
Sebagai rasa syukur Ka’ab pun menyedekahkan sebagian hartanya dan ia berkata, “Ya Rasulullah, Allah sungguh telah menyelamatkan diriku dengan kejujuran, maka sebagai bagian dari pertobatanku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan kejujuran selama sisa hidupku.”
Kejujuran adalah kesesuaian amal dengan tuntunan perintah-perintah syariat. Semoga kisah ini menjadi teladan bagi kita untuk berlaku jujur dalam berbagai kondisi walaupun hal itu berisiko, karena kejujuran membawa pada kebaikan dan pada surga. Wallahu'alam.
Memetik Hikmah dari Setiap Kejadian
Kunci Kebajikan
Rasulullah SAW tersenyum sehingga tampak kecerahan di wajahnya dan kedua pipinya. “Barang siapa yang membuat sunah (kebiasaan), baik dalam Islam, kemudian diikuti oleh orang-orang setelahnya, maka baginya pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang membuat sunah kejahatan dalam Islam dan ditiru setelahnya, maka akan mendapat dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR al-Hakim, Musnad as-Shohabah dalam Kutub Tis’ah, juz 39, hlm 108).
Laki-laki Anshor dalam hadis di atas dianggap sebagai pembuka pintu kebajikan karena mendorong para sahabat lain untuk bersedekah. Sebaliknya, kalau ada orang yang memberikan contoh kejahatan, dia akan menerima semua dosa orang-orang yang mengikutinya.
“Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Yasiin: 12 dan an-Nahl: 25).
Qabil adalah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan di dunia. Karenanya, semua dosa pembunuhan yang dilakukan orang lain yang menirunya sampai hari kiamat akan dipikulkan atas Qabil.
Kebajikan memiliki banyak gudang sebagaimana kejahatan memiliki gudang-gudang. Di antara gudang kebajikan adalah yayasan pendidikan Islam, ormas yang memperjuangkan Islam, dan pemimpin Islami.
Bila seorang pemimpin mencontohkan kebajikan atau menyuruh rakyatnya untuk melakukan kesalehan, dia adalah kunci pembuka kebajikan yang akan mendapatkan pahala kesalehan semua orang yang mengikutinya. Betapa besar pahala para pemimpin bila saleh dan adil.
Tapi sebaliknya, bila pemimpin seperti Firaun yang mencegah orang mengikuti Nabi Musa AS apalagi mengaku sebagai Tuhan, akan ditimpakan atasnya semua dosa yang tersesat karenanya.
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci pembuka pintu kebajikan dan menjadi penutup pintu kejahatan. Dan di antara mereka ada yang menjadi kunci pintu kejahatan dan penutup pintu kebajikan. Berbahagialah orang yang dijadikan Allah sebagai pembuka kebajikan dan celakalah orang yang menjadi pembuka pintu kejahatan.” (HR Ibnu majah).
Lembaga pendidikan Islam yang mengader generasi Muslim kafah adalah gudang kebajikan karena di dalamnya terdapat guru-guru yang mengajar agama, anak santri, dan pegawai yang bekerja ikhlas. Semua orang yang terlibat dalam mengurusi lembaga seperti ini dianggap sebagai pembuka pintu kebajikan.
Semoga kita menjadi kunci pembuka gudang kebajikan dalam semua situasi dan kondisi. Aamiin.
Menjaga Diri dari Sifat Serakah
Sayembara itu diadakan oleh para pembesar Quraisy setelah mereka putus asa tidak bisa menemukan Muhammad. Mereka telah mencarinya ke mana-mana, bahkan sampai ke bukit Tsur, sebelah selatan Makkah, namun mereka tak menemukannya.
Mendengar pengumuman itu, Suraqah bin Malik al-Madlaji, bertekad memenangkan hadiah itu. Segera dia menyusun strategi. Tak lama, datang seseorang ke balai desa menyatakan bahwa belum lama berselang dia bertemu dengan tiga orang di tengah jalan. Dia yakin itulah Muhammad, Abu Bakar, dan seorang penunjuk jalan.
Dalam hati Suraqah gembira dengan petunjuk itu, tetapi untuk mengecoh yang lain dia pura-pura menolaknya. “Tidak mungkin,” kata Suraqah tegas. Mereka adalah Banu Fulan yang tadi lewat di sini mencari unta mereka yang hilang.” Tampaknya mereka lebih percaya Suraqah daripada orang yang baru datang itu.
Suraqah segera pulang. Menyiapkan seekor kuda dan menyuruh pelayannya membawa kuda itu sembunyi-sembunyi ke lembah. Suraqah segera ke lembah itu, memakai baju besi, menyandang pedang, lalu memacu kudanya. Sebagai seorang pemburu dan pelacak jejak yang berpengalaman, Suraqah segera menemukan jalur yang ditempuh Nabi Muhammad dan Abu Bakar.
Ia pun berhasil melihat jejak Rasul dan Abu Bakar. Suraqah sangat senang, terbayang seratus ekor unta akan menjadi miliknya. Setelah jaraknya cukup untuk memanah, dia ambil busurnya, tiba-tiba tangannya kaku dan tidak bisa digerakkan. Kaki kudanya terbenam ke pasir.
Dia coba menarik tali kekang kuda ke atas, mendorong kuda itu untuk mengumpulkan tenaga agar dapat mengangkat kakinya. Tapi, kudanya tak mampu berdiri. Suraqah berteriak keras: “Hai kamu berdua! Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia melepaskan kaki kudaku. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian.” Lalu Nabi berdoa, maka terbebaslah kaki kuda Suraqah dari pasir.
Tetapi, karena sifat tamak dan serakahnya, membayangkan seratus ekor unta betina muda, Suraqah mengingkari janjinya. Dia kembali memacu kudanya untuk menyerang Nabi. Namun, tiba-tiba peristiwa semula terjadi kembali, kaki kudanya terbenam lagi di pasir, kali ini lebih dalam.
Suraqah memohon belas kasihan Nabi. “Ambillah perbekalanku, harta, dan senjataku. Aku berjanji akan menyuruh kembali setiap orang yang berusaha melacak kalian di belakangku.”
Nabi segera menjawab permohonan Suraqah, “Kami tidak butuh perbekalan dan hartamu. Cukuplah kalau engkau suruh kembali orang-orang yang hendak melacak kami.”
Kemudian, Nabi berdoa agar kuda Suraqah terbebas dari pasir. Kali ini Suraqah menepati janjinya. Dia pergi meninggalkan Nabi SAW dan Abu Bakar. Sebelum pergi dia kembali mengulangi janjinya, “Demi Allah. Saya tidak akan mengganggu tuan-tuan lagi.”
Belajar dari pengalaman, sebagai seorang Muslim, marilah kita menjaga diri kita dari sifat tamak dan serakah. Keserakahan justru akan membuat kita celaka dan sengsara. Wallahu a’lam.
Tujuh Indikator Kebahagiaan
Sejak kecil Ibnu Abbas sudah menunjukkan kecerdasan dan semangatnya menuntut ilmu. Beragam gelar diperolehnya. Seperti faqih al-ashr (ahli fikih di masanya), imam al-mufassirin (penghulu ahli tafsir), dan al-bahr (lautan ilmu).
Suatu hari, ia ditanya seorang tabiin (generasi sesudah para sahabat) mengenai kebahagiaan dunia. Ibnu Abbas menjawab ada tujuh indikator kebahagiaan dunia. Pertama, hati yang selalu bersyukur. Selalu menerima apa yang diberikan Allah SWT dengan ikhlas. "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (QS al-Mu’minun [23]: 1).
Kedua, pasangan hidup yang saleh. Pasangan saleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang saleh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalehan. Sebaliknya, istri yang shalehah akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suami dan anak-anaknya.
Ketiga, anak yang shaleh. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya." (HR Muslim).
Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan seorang anak muda yang selalu menggendong ibunya yang uzur. “Ya Rasulullah, apakah aku termasuk berbakti pada orang tua?” Rasulullah SAW menjawab, “Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak shaleh, berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu.”
Keempat, lingkungan yang kondusif untuk iman kita. (QS at-Taubah [9]: 119). Rasulullah SAW juga mengajarkan agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita. Pentingnya bergaul dengan orang shaleh, dapat kembali membangkitkan semangat keimanan.
Kelima, harta yang halal. Dalam Islam kualitas harta adalah yang terpenting, bukan kuantitas harta. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam Bab Shadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus, namun sayang makanan, minuman, dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan.”
Keenam, semangat memahami agama. Semakin belajar, semakin cinta kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya.
Ketujuh, umur yang berkah. Semakin tua semakin shaleh, yang setiap detiknya diisi amal ibadah. Orang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, hari tuanya akan sibuk berangan-angan. Hatinya kecewa bila tidak mampu menikmati yang diangankannya. Orang yang mengisi umurnya dengan amal ibadah, semakin tua semakin rindu bertemu Allah SWT.
Agar IQ dan EQ Seimbang
Anak yang cerdas dan berguna bagi lingkungan bisa menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosi, dan menggunakannya.
Anak yang pintar belum tentu cerdas. Sering kali, ada orang yang pandai di sekolah tapi tidak sukses dalam pergaulan dan pekerjaan sehari-hari. Atau sebaliknya, ada orang yang tidak pandai di sekolah tapi happy dan sukses dalam pergaulan dan pekerjaan sehari-hari.
Mengapa? Psikolog Eileen Rachman mengatakan, ini semua tidak terlepas dari pentingnya IQ (kecerdasan intelektual) dan EQ (kecerdasan emosi). ''Anak yang cerdas dan berguna bagi lingkungan adalah anak yang dapat menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosi, dan menggunakannya,'' tuturnya.
IQ, kata Eileen, sering disamakan dengan intelijensia. Padahal, IQ hanya mengukur sebagian kecil intelijensia atau kecakapan. IQ antara lain hanya mengukur kemampuan membayangkan ruang, melihat lingkungan sekeliling secara menyeluruh, dan mencari hubungan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya. Tapi, IQ tidak mengukur kreativitas, kearifan, dan kemampuan sosial.
Jadi, belum tentu anak yang IQ-nya tinggi bakal kreatif. Bisa jadi memang pintar, tapi tidak happy dan sosialisasinya kurang. Anak yang cerdas adalah anak yang bisa berkreasi secara logis dan berguna terhadap apa yang dialami di lingkungannya. Anak yang pintar tapi tidak bisa mengatasi masalah, itu tidak cerdas.
Kecerdasan, kata dia, adalah pemahaman dan kesadaran anak terhadap apa yang dialaminya. Di dalam pikirannya, pengalaman ini diubah menjadi kata-kata atau angka. ''Pemahaman berbuah pengetahuan,'' ujar konsultan sumber daya manusia yang juga direktur Experd ini.
Namun, dia mengingatkan, terlalu banyak pengetahuan seperti kata-kata, angka, rumus, dan simpulan yang tidak berdasarkan pengalaman dapat menghambat perkembangan anak. Hanya mengandalkan pengalaman, sulit menggambarkannya melalui kata-kata dan angka, juga menghambat perkembangan.
Cara-cara ini perlu diperkenalkan kepada anak, di samping memperkenalkan strategi, mengambil keputusan yang rasional, dan mencetuskan ide selancar mungkin.Cara lain adalah midmapping. Artinya, biasakan anak mendiskripsikan konsep dengan cara menggambarkannya secara bebas, baik dengan kata-kata, warna, maupun gambar. ''Biarkan anak menghubungkannya dengan apa saja.Biarkan ia bebas menggambarkan hubungannya,'' tuturnya.
Eileen menuturkan, agar anak bisa membaca lancar dan pemahaman penuh, menulis secara kreatif, mengeja dan mengingat, mendengar dan berpikir sekaligus pada saat yang sama, maka dibutuhkan koordinasi otak kiri dan kanan dengan baik dan terlatih. Untuk itu, perlu menyeimbangkan kerja otak kiri dan kanan.
Menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan bisa dilakukan dengan latihan. Misalnya, olahraga dan senam yang melibatkan kedua tangan dan kaki secara seimbang. Atau menggambarkan angka OO selebar-lebarnya dengan kedua lengan secara berlawanan.
Cara menyeimbangkannya, menurut dia, melalui kebiasaan-kebiasaan. Misalnya, menikmati musik dan kesenian lainnya, menikmati warna, ruang, dan bentuk, menghargai kreativitas, dan menghargai kepekaan perasaan. ''Kecakapan anak akan optimal bila semua potensinya dikembangkan,'' tuturnya. Potensi yang dimaksud adalah daya pikir, daya serap, dan emosi.
Bagaimana dengan EQ? Ini menyangkut angka kapasitas mental yang didasari kepekaan emosi, penyadaran, dan kemampuan mengatur emosi. ''Anak yang kapasitas emosi tinggi dapat membedakan emosi negatif dan positif dan tahu cara mengubah emosi negatif menjadi positif,'' ujarnya.
Anak dengan kecakapan emosi tinggi, antara lain sadar diri, pandai mengendalikan diri, bisa dipercaya, bisa beradaptasi, dan kreatif. Juga bisa berempati, memahami perasan orang lain, bisa menyelesaikan konflik, bisa bekerja sama dalam tim, berani bercita-cita, bisa berkomunikasi, percaya diri, suka membaca tanpa didorong-dorong, serta mengingat kejadian dan pengalaman dengan mudah.
Untuk mengasah kecakapan emosi, Eileen mengatakan, itu bisa dilakukan dengan membiasakan anak menentukan perasaan dan tidak cepat-cepat menilai orang lain atau situasi. Ajak anak berpikir yang betul. Misalnya, saat dalam penantian. Sebaiknya anak tidak mengatakan, ''Ini menyebalkan.'' Ajak anak mengatakan yang sebenarnya, misalnya, ''Aku tidak sabar.''
Perlu juga mengajak anak menggambarkan kekhawatirannya, menyatakan kebutuhan emosinya, mengajak orang menghormati orang lain, atau mengajak anak merasakan energinya, bukan kemarahan. ''Bila anak marah, ajak ia untuk bersemangat mencari pemecahan masalahnya,'' tuturnya. Bagaimanapun, menurut dia, kecakapan anak akan optimal bila semua potensinya dikembangkan.
--------------------------------------------------------------------
Sumber : www.republika.co.id
Ternyata Bayi Bisa Mendeteksi Kebohongan

